www.domainesia.com
EdukasiOpini

Pengaplikasian Metode MFA Sankey Diagram sebagai Optimalisasi Produk Pertanian di Sumbawa

SHAFWAN AMRULLAH, S.T., M. Eng
Dosen Program Studi Teknologi Pertanian Universitas Teknologi Sumbawa

Sebagai Negara agraris, sektor pertanian menjadi sektor yang sangat penting di Indonesia, hal ini dapat dilihat dari mayoritas penduduknya yang tinggal di daerah pertanian dan berprofesi sebagai petani. Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) (2019) sektor pertanian menyerap tenaga kerja sebanyak 38,23 juta jiwa atau sebesar 29,76%. Berdasarkan angka tahun 2020 terutama pada luas panen padi tercatat sebesar 272,19 hektar, mengalami penurunan sebanyak 9,47 ribu hektar dari 3,36 persen dibandingkan dengan 2019yang sebesar 281,67 ribu hektar. Produksi padi pada tahun 2020 diperkirakan sebesar 1,31 juta ton gabah kering giling (GKG), mengalami penurunan sebanyak 92,42 ribu ton atau 6,59 persen dibandingkan 2019 yang sebesar 1,40 juta ton GKG. Jika potensi padi pada 2020 dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, produksi beras pada 2020 diperkirakan 742,13 ribu ton, mengalami penurunan sebanyak 52,37 ribu ton atau sekitar 6,59 persen dibandingkan dengan 2019 sebesar 794,5 ribu ton.

Kabupaten Sumbawa pada tahun 2018 tercatat memiliki luas lahan sawah sebesar 61,282.00 ha, diamana terdiri dari beberapa desa salah satunya yaitu Desa Baru Tahan seluas 967 hektar. Tinggi rendahnya produktivitas pertanian sering terjadi pada lahan kering yang disebabkan oleh curah hujan yang rendah, topografi bergelombang dan berbukit, lahan yang kurang subur sehingga petani hanya mampu melakukan kegiatan usaha tani 1-2 kali musim tanam setahun karena petani sangat tergantung dengan suplai air hujan sebagai sumber utama. Adapun data rencana dan realisasi panen per luas panen (Ha) dari total tahun 2020 oleh Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa yaitu mencakup pada masa tanam januari s.d April, Mei s.d Agustus, dan September s.d Desember pada tahun 2020 pada komoditi padi sawah dengan total target dari 79,792 hektar dengan jumlah realisasi lahan sebesar 71,411 hektar (89.50%), padi Gogo dari target 7,683 hektar dengan jumlah realisasi lahan sebesar 9,735 hektar (126.71%), jagung dengan target 116,043 hektar dengan jumlah realisasi lahan sebesar 89,717 hektar (77.31%), dan kedelai dari target 3,264 menjadi 444 hektar (13,60 %) (Amrullah, Nurkholis, and Pratama 2021). Namun saat ini produk pertanian hanya sebatas produk bahan mentah saja, sehingga perlunya pemetaan produk pertanian merupakan langkah awal yang baik untuk mengetahui alur produksi dan alur konsumsinya. Selain adanya pemetaan, perlunya simulasi yang menjadi jawaban atas jalur masuk dan keluar produk pertanian dalam suatu daerah, sehingga didapatkan sebuah rekomendasi khusus yang dapat menjawab setiap permasalahan yang ada. Para peneliti yang melibatkan Dosen Teknologi Pertanian yaitu Shafwan Amrullah, S.T., M.Eng. menggunakan sebuah metode yang terbaik yaitu Mass Flow Analysis (MFA) untuk mengetahui aliran massa dari produk pertanian Sumbawa, dimana diwakilkan oleh desa di Moyo Utara yang bernama Desa Baru Tahan, dimana desa ini memiliki produk pertanian yang tidak terlalu baik, sehingga pemetaan dan simulasi jalur produksi dan konsumsi perlu dilakukan. Salah satu lokasi yang dapat digunakan sebagai tempat simulasi adalah Desa Baru Tahan, Kabupaten Sumbawa. MFA sendiri merupakan analisis khusus yang biasa digunakan dalam mengetahui keseluruhan dari rangkaian proses yang dimulai dari proses ekstraksi. Transformasi, pabrikasi, konsumsi, daur ulang dan pembuangan dari suatu material yang dihasilkan. MFA sendiri berbasis pada perhitungan secara kuantitatif (biasanya dalam ton) terhadap input dan output suatu proses. Materi yang dihitung biasanya dalam bentuk senyawa/unsur maupun bulk material sekalipun (produk pertanian, kayu, batu bara dan lain sebagainya). Tujuan utama dalam penggunaan MFA adalah menyajikan gambaran pemakaian material pada sebuah proses produksi. Selain itu dengan MFA, kita dapat mengidentifikasi sumber, jumlah dan sebab dari sebuah emisi dan polusi yang dihasilkan proses tersebut. Lebih luas lagi MFA dapat menjadi basis dari evaluasi dan prediksi pengembangan ke depannya. Lebih dari itu, MFA akan dapat digunakan sebagai metode analisis untuk menyusun strategi untuk memperbaiki situasi secara umum.
Desa Baru Tahan sendiri merupakan salah satu desa di wilayah Kecamatan Moyo Utara Kabupaten Sumbawa yang posisi desa ini berdekatan dengan kota Sumbawa Besar. Desa ini memiliki wilayah seluas 967 ha dari presentasi terhadap luas kecamatan sebesar (BPS-Sumbawa 2009). Sehingga potensi produk pertanian yang ada sangat besar. Mengingat komoditi pangan tersebut sebagai potensi utama di wilayah Kecamatan Moyo Utara khususnya Desa Baru Tahan, maka diperlukannya data potensi wilayah pertanian dan perlunya pemetaan potensi wilayah di Desa Baru Tahan. Selain itu, pada penelitian ini dilakukan proses simulasi jalur produksi serta konsumsi produk pertanian yang dapat memberikan design yang baik, dan dapat mensejahterakan masyarakat setempat. Survei dan wawancara serta studi kasus merupakan metode untuk mendapatkan referensi dan data kepada petani setempat. Secara tidak langsung dapat diketahui permasalahan yang timbul yaitu, tidak ada data potensi produk hasil pertanian dan pemetaan potensi produk pertanian. Berdasarkan permasalahan yang telah didapat maka tujuan dari penelitian ini yaitu, menganalisis data potensi produk hasil pertanian dan melakukan pemetaan potensi produk pertanian serta simulasi jalur produksi dan konsumsi di Desa Baru Tahan, Kabupaten Sumbawa.

Berdasarkan hasil simulasi, lokasi uji ini memiliki produk padi yang merupakan produk terbesar yang menjadi produksi lokal, yaitu dengan jumlah total 330,6 ton. Selanjutnya diikuti oleh jagung dengan total 120 ton. Selanjutnya diikuti oleh cabe dengan total 15 ton. Selanjutnya diikuti oleh kacang panjang dengan jumlah produksi total adalah 10 ton. Pada produksi yang paling rendah ditempati kacang panjang dan kacang hijau dengan masing-masing produksi adalah 7,5 dan 3,6 ton. Selain itu terlihat bahwa produk yang mendominasi adalah produk padi dengan jumlah produksi sampai 330.600 kg dalam jangka waktu penelitian berlangsung. Berdasarkan padi yang diproduksi tersebut, 302.600 kg padi dijual dalam keadaan utuh. Sedangkan 26.250 kg dari produksi tersebut di konsumsi. Sisanya adalah dibutt sebagai bibit padi kembali, yaitu 1.750 kg. Berdasarkan alur tersebut, beras yang dijual mayoritas hanya dijual tanpa dilakukan pemrosesan terlebih dahulu. Sehingga dengan adanya hal tersebut perlu dilakukan proses terlebih dahulu sehingga didapatkan beras dengan harga yang lebih mahal.

Pada penelitian ini, jagung juga dihasilkan dalam jumlah besar, dimana 120.000 kg diproduksi oleh para petani di Desa Baru Tahan. Dari jumlah tersebut, 95.000 kg dijual langsung ke pabrik yang mengelola jagung. Selain itu 24.750 kg dari produksinya dikonsumsi. Sedangkan sisanya dibuat menjadi bibit kembali. Adanya alur seperti ini berdampak nyata pada pendapatan masyarakat petani di Desa Baru Tahan. Sehingga perlu adanya inovasi khusus yang dapat menangani hal tersebut. Sedangkan selain kedua jenis produk tersebut, hanya sedikit produksi yang didapatkan, sehingga tidak terlalu signifikan dalam hal modifikasi alur produksi.

Berdasarkan hasil secara keseluruhan dapat peneliti dapat melakukan proses modifikasi yang signifikan terhadap produk padi, dimana padi yang dijual sebelumnya sebesar 302.600 kg di modifikasi terlebih dahulu dengan proses packing 5 kg. Adanya proses tambahan seperti ini dapat memberikan nilai tambah dengan meningkatnya harga beras Rp 8.000/kg menjadi Rp 13.000/kg (Immaduddin et al. 2021). Pada produk jagung dilakukan proses pembuatan tepung jagung terlebih dahulu agar dapat meningkatkan nilai jual. Produk tepung jagung yang dihasilkan adalah sekitar 5.000 kg. Adanya inovasi ini dapat meningkatkan nilai jual jagung dari Rp 5.000 menjadi Rp 57.000 (Saputra and Amrullah 2021). Selain itu dilakukan proses pembuatan saos tomat 5.000 kg tomat sebelum dijual. Sehingga dengan adanya inovasi ini dapat meningkatkan harga tomat dari Rp 2.000/kg menjadi Rp 15.000/kg. Untuk kacang hijau sendiri dilakukan proses pembuatan sari kacang hijau sebanyak 2.000 kg (Amrullah, Amin, and Ali 2021). Sehingga dengan adanya inovasi tersebut dapat meningkatkan harga jual produk pertanian di lokasi sampel, dan dapat diaplikasikan secara luas di wilayah Sumbawa.

Related Articles

banner
Back to top button